PT Semen Indonesia Tbk (SIG) memanfaatkan bahan bakar alternatif untuk operasional pabrik. (libassonline)

Jakarta, Libassonline.com – PT Semen Indonesia Tbk (SIG) memanfaatkan bahan bakar alternatif untuk operasional pabrik. Menurut Direktur Utama SIG Hendi Prio Santoso, seluruh pabrik SIG telah memanfaatkan biomassa sebagai bahan bakar alternatif.

Hendi mengatakan, di pabrik Solusi Bangun Andalas (Aceh), Semen Padang (Sumatra Barat), dan Semen Tonasa (Sulawesi Selatan), bahan bakar alternatif yang dipakai berasal dari sekam padi dan serbuk gergaji. Sedangkan sejak 2008, kata dia, seluruh operasional di Pabrik Tuban, Jawa Timur, juga telah menggunakan bahan bakar biomassa dari sekam padi, sabut kelapa, limbah tembakau, dan biji jagung.

Ia menjelaskan, semua limbah pertanian itu didapat dari sejumlah kabupaten di Jawa Timur, antara lain Tuban, Lamongan, Bojonegoro, dan Banyuwangi. Hendi menambahkan, pabrik di Tuban setiap bulannya menerima kiriman sekam padi sebanyak 2.553 ton, cocopeat sebanyak 244 ton, limbah tembakau sebanyak 244 ton, serta kertas reject sebanyak 90 ton. “Semuanya untuk sumber bahan bakar alternatif kami,” kata Hendi dalam keterangan tertulis, Rabu (6/1/2021).

Sedangkan pabrik milik PT Solusi Bangun Indonesia Tbk yang merupakan salah satu anak usaha perusahaan, SIG memanfaatkan sampah perkotaan (municipal solid waste/MSW) sebagai bahan bakar alternatif dalam pembuatan semen. Pengolahan sampah dilakukan lewat fasilitas tempat pengelolaan sampah terpadu refused derived fuel (TPS RDF) yang dibangun di daerah Tritih Lor, Jeruklegi, Kabupaten Cilacap.

Fasilitas tersebut telah diresmikan pada Juli 2020 dan merupakan fasilitas pengolahan sampah domestik terpadu pertama di Indonesia. Fasilitas ini dimiliki Pemerintah Daerah Kabupaten Cilacap. “Dalam proyek jangka panjang ini, SBI ditunjuk sebagai operator dan bertanggung jawab mempersiapkan sumber daya manusia melalui berbagai pelatihan, serta offtaker produk RDF,” kata Hendi.

Fasilitas pemanfaatan sampah perkotaan di TPA Jeruklegi, Kabupaten Cilacap, dibangun di atas lahan seluas satu hektare dan mampu mengolah limbah sampah domestik sebesar 120 ton per hari yang dapat menghasilkan 60 ton RDF per harinya.

RDF merupakan hasil dari sampah domestik yang diolah dengan metode biodrying untuk dijadikan energi terbarukan dan dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif. Ia menambahkan, SBI pada September 2020 juga telah menjalin kerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi DKI Jakarta dan PT Unilever Indonesia dalam pengelolaan dan pemanfaatan sampah domestik di TPST Bantargebang menjadi bahan bakar alternatif berupa RDF.

“Semoga inovasi ini bisa menjadi contoh dalam pengelolaan sampah sehingga dapat mengurangi ketergantungan pengelolaan sampah kota/kabupaten ke TPA sampah yang sampai saat ini keberadaannya selalu menjadi masalah, baik lingkungan maupun sosial,” ucapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: