Para importir bawang putih tengah berupaya untuk bisa mendapatkan dokumen Good Agricultura Practice (GAP) dari para ekspotir bawang di China. (libassonline)

Jakarta, Libassonline.com – Ketua Perkumpulan Pelaku Usaha Bawang Putih dan Sayuran Umbi Indonesia (Pusbarindo), Valentino, mengatakan, para importir bawang putih tengah berupaya untuk bisa mendapatkan dokumen Good Agricultura Practice (GAP) dari para ekspotir bawang di China. Menurutnya, para importir bahkan tengah saling berebut untuk mendapatkan dokumen tersebut.

Ia menjelaskan, GAP merupakan dokumen yang dibutuhkan untuk bisa mendapatkan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) dari Kementerian Pertanian. GAP tersebut harus sesuai dengan kriteria yang ditetapkan di Indonesia.

“Untuk mendapatkan RIPH, perlu dokumen GAP yang masih memenuhi kapasitas produksinya. Namun, kapasitas GAP setiap eksportir di China itu terbatas,” kata Valentino, Jumat (15/1/2021).

Ia menjelaskan, para importir tengah berebut GAP dari China karena adanya dugaan oknum importir yang memalsukan GAP demi mendapatkan RIPH dengan cepat. “Justru yang punya GAP asli, tapi mengajukan (RIPH) belakangan gigit jari karena keduluan dipakai perusahaan lain,” katanya menambahkan.

Valentino menyampaikan, jumlah kapasitas GAP sekaligus membatasi importir yang bisa mengajukan RIPH. Jika kapasitas produksi GAP yang ditetapkan di Indonesia sudah habis terpakai oleh beberapa importir untuk mengajukan RIPH, maka GAP tersebut sudah tidak bisa digunakan untuk mengajukan RIPH oleh importir lain.

Menurut Valentino, jika prosesnya lancar, RIPH akan terbit sekitar bulan Februari. Namun, pihaknya belum mengetahui jelas situasi tahun ini. “Kalau RIPH dipersulit, saya akan terian ke Komisi IV DPR dan KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha),” kata Valentino.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: