ilustrasi passport Amerika Serikat (libassonline.com)

JAKARTA, libassonline.com – Gray menjadi obyek viral di media sosial karena ia mengajak turis asing ramai-ramai datang ke Bali pada masa pandemi. Izin tinggalnya pun dipertanyakan warganet karena ia sudah lama tinggal di Bali.

“Sehubungan dengan viralnya laporan pengaduan atas kasus Kristen Gray tersebut, Ditjen Imigrasi telah mengomunikasikan dengan Kanim Ngurah Rai dan Kanim Denpasar yang langsung turun untuk menelusuri keberadaan yang bersangkutan,” kata Kepala Bagian Humas dan Umum Ditjen Imigrasi Arvin Gumilang, Selasa (19/1/2021).

Arvin mengatakan, pada Senin (18/1/2021), tim Intelitjen dan Penindakan Keimigrasian Kantor Imigrasi Denpasar mendapatkan data orang asing atas nama Kristen Antoinette Gray.

Petugas lalu mendatangi Desa Banjar Panestanan Ubud, Gianya, sesuai alamat yang ada di pengajuan izin tinggal Gray.

“Namun, warga setempat tidak ada yang mengenal WNA tersebut,” kata Arvin.

Petugas lalu mendatangi alamat I GST NGR Widyantara yang merupakan sponsor Gray. Di sana, petugas bertemu dengan istri Widyantara karena Widyantara sedang sakit. Pihak Direktorat Jenderal Imigrasi telah menelusuri keberadaan warga negara Amerika Serikat bernama Kristen Gray yang tengah menjadi perbincangan di dunia maya.

“Dari keterangan istrinya memang benar bahwa I Gusti Ngurah Widyantara mensponsori WNA atas nama Kristen Antoinetie Gray yang saat ini WNA tersebut tinggal di Palm Terace Banjar Abang Kelod, Abang Karangasem,” kata Arvin.

Tim kemudian menghubungi Widyantara yang mengaku telah menghubungi Gray agar datang ke Kantor Imigrasi Kelas I Denpasar pada Selasa hari ini. Pihak Gray dan sponsornya pun telah menyanggupi untuk hadir di Kantor Imigrasi Kelas I Denpasar.

Arvin mengatakan, berdasarkan Sistem Izin Tinggal Keimigrasian, Gray memiliki Izin Tinggal Kunjungan (ITK) keluarga/sosial dengan status Perpanjangan ITK ke-4 yang berlaku sampai dengan 24 Januari 2021.

Pemeriksaan terhadap Gray, lanjut Arvin, dilakukan untuk memastikan apakah Gray masuk dalam kategori bekerja serta memastikan mekanisme pembayaran pajak atas pekerjaan yang dilakukan Gray.

Diketahui, selama tinggal di Bali, Gray dan pasangannya membuka praktik konsultasi online bagi orang asing yang ingin tinggal di Bali. Mereka mematok harga 50 dollar AS untuk satu kali konsultasi. Sementara itu, melalui akun Twitter-nya, Gray mengaku tidak pernah membayar pajak ke Pemerintah Indonesia. Oleh karena itu, Arvin mengaku belum bisa memastikan apakah Gray dapat dideportasi atas perbuatannya itu.

“Lihat nanti hasil pemeriksaannya seperti apa. Saya belum bisa berkomentar,” ujar Arvin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: