Aktivitas bongkar muat barang di Pelabuhan Boom Baru Palembang. (libassonline)

Palembang, libassonline.com – Pelabuhan Boom Baru Palembang terus mengalami peningkatan bongkar muat, peningkatan ini dipengaruhi telah dibukanya pintu perdagangan luar negeri di sejumlah negara pengekspor komoditas.

Pergerakan ekonomi di Pelabuhan Boom Baru itu membuat PT Pelabuhan Indonesia II (IPC) Cabang Palembang menargetkan kenaikan trafik peti kemas sebesar 4 persen pada 2021.

Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Selatan Endang Tri Wahyuningsih di Palembang, Selasa, mengatakan jumlah bongkar muat barang dalam negeri di Pelabuhan Boom Baru Palembang tercatat sebanyak 303.039 ton, atau naik sebesar 22,39 persen pada pada Desember 2020 jika dibanding November 2020.

Pada Desember 2020, total barang yang dibongkar sebanyak 116.897 ton atau naik 12,82 persen dibandingkan dengan November 2020. Sedangkan, barang yang dimuat sebanyak 186.142 ton, naik 29,27 persen dibanding November 2020.

Sepanjang Januari – Desember 2020, secara keseluruhan jumlah bongkar muat barang dalam negeri yang tercatat di Pelabuhan Boom Baru sebanyak 2.278.190 ton, naik 1,71 persen dibanding periode yang sama tahun 2019.

Pada Desember 2020, jumlah bongkar muat barang dari luar negeri di Pelabuhan Boom Baru Palembang tercatat sebanyak 214.917 ton, naik 10,27 persen dibanding November 2020.

Jumlah barang yang dibongkar tercatat sebanyak 104.709 ton, naik 31,51 persen dibandingkan dengan November 2020. Jumlah barang yang dimuat pada Desember 2020 sebanyak 110.208 ton, turun 4,40 persen dibanding November 2020.

Sepanjang Januari – Desember 2020 secara keseluruhan jumlah bongkar muat barang luar negeri yang tercatat di Pelabuhan Boom Baru sebanyak 1.947.893 ton, naik 5,28 persen dibanding periode yang sama tahun 2019.

“Kami yakin bisa tumbuh karena ekspor komoditas Sumsel, karet dan kelapa, ke negara tujuan secara bertahap sudah meningkat,” kata dia.

Ia menjelaskan arus peti kemas di Pelabuhan Boom Baru sepanjang tahun 2020 sebanyak 0,12 juta TEUs. Angka tersebut merosot 14,67 persen dibanding tahun 2019 yang sebanyak 0,20 juta TEUs.

Namun demikian, dia melanjutkan, kondisi berbeda terjadi pada trafik non-peti kemas yang malah meningkat 9,4 persen pada tahun lalu, yakni sebanyak 2,42 juta ton dari sebelumnya 1,31 juta ton.

“Untuk trafik non-peti kemas, kami targetkan bisa tumbuh jadi 14 persen pada tahun ini,” kata Silo.

Pertumbuhan arus non peti kemas lantaran impor komoditas ke Sumsel, seperti bahan baku untuk pupuk meningkat pada tahun lalu. (Editor/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: