Trafik lalulintas laut di selat Malaka, selat Malaka adalah sebuah selat yang terletak di antara pulau Sumatra di Indonesia sebelah barat dan semenanjung Malaysia dan Thailand bagian selatan. Selat Malaka memiliki panjang 500 mil dan berbentuk corong, dengan lebar hanya 40 mil di selatan yang melebar ke utara hingga sekitar 155 mil. (libassonline)

Jakarta, libassonline.com – Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) rapat koordinasi untuk meningkatkan keamanan dan keselamatan Maritim di Selat Malaka dan Selat Singapura, yang digelar di Batam, Provinsi Kepulauan Riau, Jumat (26/2/2021).

Rapat tersebut adalah salah satu bentuk upaya meningkatkan keselamatan pelayaran khususnya di wilayah Selat Malaka dan Singapura adalah dengan mengefektifkannya pelayanan lalu lintas kapal/VTS (Vessel Traffic Service).

Kecelakaan yang dialami tiga kapal Indonesia yakni MV. Shahraz, MV. Samudra Sakti I, dan MV. Tina I yang terjadi sepanjang tahun lalu di perairan Batu Berhenti, Provinsi Kepulauan Riau kini menjadi perhatian Indonesia.

Pertemuan tersebut dibuka oleh Staf ahli Menteri Bidang Hukum Laut Okto Irianto.

“Hari ini kita bahas jaminan keamanan dan keselamatan kapal di Selat Malaka dan Singapura, khususnya bagaimana mengoptimalkan pelayanan pemanduan demi mengurangi risiko kecelakaan,” ujarnya, dalam keterangan resmi, dikutip Minggu (28/2/2021).

Secara detil rakor membahas mengenai kerja sama pengelolaan Selat Malaka dan Singapura, regulasi, penyelenggaraan kenavigasian, serta rekomendasi peningkatan kualitas layanan pandu kapal.

Hadir dalam Rakor tersebut Penasehat Khusus Menko Marves Bidang Pertahanan dan Keamanan Maritim Marsetio, Staf Khusus Menko Marves Bidang Politik dan Keamanan Fred Lonan, dan Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono.

Hadir pula Direktur Kenavigasian Hengki Angkasawan, pejabat Unit-unit Pelaksana Teknis Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, Kepala Staf dan Komandan Gugus Keamanan Laut Komando Armada I TNI AL, serta perwakilan dari Direktorat Hukum dan Perjanjian Kewilayahan Kementerian Luar Negeri, Pusat Hidro-oseanografi TNI AL, dan PT Pelindo I (Persero).

“Kecelakaan yang dialami MV. Shahraz, MV. Samudra Sakti I, dan MV. Tina I yang terjadi sepanjang tahun lalu (kapal kandas) perlu menjadi perhatian Indonesia sebagai negara berdaulat. Jaminan keselamatan navigasi bagi kapal yang berlayar melalui perairan Indonesia serta perlindungan lingkungan maritim adalah salah satu bentuk perwujudan kedaulatan Indonesia,” ujar Penasehat Khusus Menko Bidang Hankam Maritim Marsetio dalam rakor.

Diplomat Muda dari Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Rama Kurniawan mengatakan bahwa keselamatan navigasi dan perlindungan lingkungan maritim di Selat Malaka dan Selat Singapura selama ini dikelola melalui kerja sama antara Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

“Sejak 2007, pola kerja sama diperkuat dengan adanya Mekanisme Kerja Sama (Cooperative Mechanism/CM) yang mempertemukan tiga negara pantai tersebut dengan Organisasi Maritim Internasional (International Maritime Organization/IMO) dan anggota komunitas maritim dunia lainnya,” tambahnya.

Kerja sama ini dilakukan melalui Kelompok Ahli Teknis Tiga Negara (Tripartite Technical Expert Group/TTEG). Kelompok ahli ini telah terbangun sejak 1977. (Editor/Red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *