Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto setelah Rapat Koordinasi Nasional Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC PEN) di Jakarta, Kamis (26/1/2023). Libassonline.com
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto setelah Rapat Koordinasi Nasional Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC PEN) di Jakarta, Kamis (26/1/2023). Libassonline.com

Jakarta (Libassonline.com) – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan insentif dari Indonesia agar devisa hasil ekspor (DHE) disimpan di dalam negeri, akan bersaing dengan daya tarik yang diberikan Singapura.

Airlangga menyebutkan salah satu insentif tersebut bisa berupa insentif bunga dan pendapatan bunga. Disinggung apakah pemerintah akan menurunkan pajak bunga valuta asing yang disimpan di dalam negeri, Airlangga mengatakan hal itu belum pasti karena masih pembahasan.

“Nanti kita lihat ini masih pembahasan,” ujar dia.

Insentif tersebut, ujar dia, akan tertuang dalam peraturan hasil revisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 1 tahun 2019 tentang Devisa Hasil Ekspor (DHE) dari Kegiatan Pengusahaan, Pengelolaan, dan/atau Pengolahan Sumber Daya Alam.

Bank Indonesia (BI), kata Airlangga, juga akan mengeluarkan Peraturan BI (PBI) terkait insentif penyimpanan DHE di industri dalam negeri.

Pemerintah, kata Airlangga, mengusulkan agar eksportir wajib menyimpan DHE di dalam negeri selama tiga bulan. Usulan tersebut hingga saat ini masih dibahas di lingkup pemerintah dan BI serta pihak terkait lainnya.

Pemerintah mengusulkan jangka waktu tiga bulan untuk penyimpanan DHE dalam rangka mencegah pelarian arus modal dalam bentuk valas ke luar negeri.

Saat ini, kata dia, stagnasi pertumbuhan dan inflasi membayangi ekonomi global. Hal itu bisa memicu bank sentral negara maju seperti AS menaikkan suku bunganya.

Kenaikan suku bunga kebijakan dan bank sentral negara maju seperti AS akan memicu risiko terserapnya likuiditas valas ke luar negeri dari negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

Jika hal itu terjadi, Indonesia akan kesulitan saat membutuhkan pembiayaan valas untuk impor maupun ekspor. Kurangnya pasokan valas akan berisiko terhadap stabilitas nilai tukar rupiah karena pelaku pasar dan perbankan akan meningkatkan permintaan untuk pasokan valas.

“Kita harus punya dana yang cukup terutama untuk membiayai ekspor dan impor, kebutuhan ekspor dan impor kan riil. Pada saat kebutuhan ekspor dan impor itu disediakan dengan Devisa Hasil Ekspor masuk, maka kita mempersiapkan ekosistem devisa maupun ekosistem dolar AS di dalam negeri sehingga pengusaha kita tidak melulu bergantung pada perbankan di Singapura,” kata Airlangga.

“Kita perlu buat agar ini bersaing dengan Singapura, sehingga tidak terbang lagi (devisa) ke Singapura,” kata Airlangga setelah Rapat Koordinasi Nasional Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC PEN) di Jakarta, Kamis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: