Pangkostrad Letjen Dudung Abdurachman di Markas Brigif Raider 20 Kostrad, Timika, Kabupaten Mimika, Papua, Selasa (6/7/2021). (libassonline)

Papua, libassonline.com – Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) Letnan Jenderal (Letjen) TNI Dudung Abdurachman bergerak cepat. Belum satu bulan sejak dilantik menjadi panglima Kostrad, ia sudah berada di wilayah operasi di Papua, di Markas Brigif Raider 20 Kostrad, Timika, Kabupaten Mimika, Papua, Selasa (6/7/2021)

Mengunjungi anak buahnya yang bertugas memulihkan keamanan dan ketertiban di Papua. Termasuk memberangus kelompok separatis bersenjata, Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Pasukan Kostrad yang tergabung dalam Satgas Pamtas (pengamanan perbatasan) penyangga (mobile) itu berasal dari Batalyon Infanteri (Yonif) Mekanis Raider 412 Brigade Infanteri (Brigif) Mekanis 6 Divisi Infanteri (Divif) 2 Kostrad. Dipimpin Komandan Satgas (Dansatgas) Letkol (Infanteri) Renaldy. Batalyon ini bermarkas di Purworejo, Jawa Tengah, dan baru satu bulan bertugas di Papua.

Dengan personel sekitar 450 orang, akan bertugas selama sembilan bulan. Pasukan dengan kemampuan anti teror ini dilengkapi dengan kendaraan tempur Tank M113 A1. Kendaraan berlapis baja untuk mendobrak kumpulan semak belukar dan pepohonan serta menyerbu posisi musuh.

Kedatangan Dudung untuk memeriksa kesiapsiagaan pasukan tempur tersebut. Sekaligus memberikan dukungan moril bagi para prajuritnya. Sebuah kebanggaan bagi para prajurit apabila panglimanya hadir di daerah operasi pertempuran.

Di hadapan pasukan tempurnya, Letjen Dudung menyampaikan pesan agar bisa membawa musuh untuk kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan mencintai negara seutuhnya.

“Melaksanakan tugas harus dengan ikhlas dari hati dan penuh rasa tanggung jawab. Prajurit hebat yang tugas di Papua adalah prajurit yang bisa membawa musuh untuk balik mencintai kembali NKRI sehingga tugas yang diberikan hasilnya akan berdampak,” kata Dudung dengan suara bergetar.

Seperti janjinya usai dilantik menjadi Panglima Kostrad, awal Juni 2021 lalu, ia memang ingin secepatnya bisa berkumpul bersama pasukannya di daerah-daerah operasi. Mantan Pangdam Jaya tersebut tiba di Bumi Cenmdrawasih, Senin lalu (5/7/2021).

Pasukannya terlibat dalam Operasi Pinang Sirih III. Dudung didampingi Panglima Komando Operasi Gabungan (Pangkoopsgab) Pinang Sirih III, Brigadir Jenderal TNI Susilo. Menemui pasukan Yonif Raider 754 Kostrad di Jalan Trans Nabire Mile 32, Kuala Kencana, Kabupaten Mimika.

Jawab HRS

Kehadiran Dudung yang begitu cepat ke Papua, mengingatkan pernyataan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab (HRS) saat di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, pekan ketiga Mei 2021. Dalam pembelaannya, HRS menyatakan kekecewaanya terhadap Pangdam Jaya Dudung Abdurachman yang mencopoti baliho FPI di Jakarta dan sekitarnya.

HRS kemudian ‘menantang’ Dudung untuk juga berani berperang menumpas OPM. Selang sekitar sepekan setelah ucapan HRS tersebut, Dudung kemudian promosi menjadi Panglima Kostrad.

Tentu saja saat menjadi Pangdam Jaya Jayakarta, Dudung tak bisa berperang menumpas OPM di Papua. Sebab Kodam Jaya merupakan komando kewilayahan pertahanan yang meliputi Provinsi DKI Jakarta dan sekitarnya (Depok, Tangerang, Bekasi, dan Kepulauan Seribu).

Berbeda dengan Kostrad sebagai komando utama operasi pertahanan keamanan tingkat strategis sesuai dengan kebijakan Mabes TNI. Wilayah tugasnya meliputi seluruh Indonesia. Kostrad memiliki tiga Divif yang dibagi dalam wilayah Indonesia Barat, Indonesia Tengah, dan Indonesia Timur.

Kostrad adalah satuan terbesar di Indonesia, memiliki lebih dari 40 batalyon. Panglima Kostrad, Letjen Dudung membawahi lima Mayor Jenderal, dan 14 Brigadir Jenderal. Sebagai Panglima Kostrad berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Panglima TNI.

Tugas Panglima Kostrad membina kesiapan operasional atas segenap jajaran komandonya dan menyelenggarakan operasi pertahanan tingkat strategis sesuai dengan kebijaksanaan Panglima TNI.

Zona perang

Serbuan Dudung ke Papua ini didampingi Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) III Letjen TNI Agus Rohman, Panglima Kodam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Ignatius Yogo Triono, Inspektur Kostrad Mayjen TNI Ilyas Alamsyah, Asops Kogabwilhan III Brigjen TNI Aditya Pasha Nindra. Hadir pula Kepala Kelompok Staf Ahli Pangkostrad Brigjen TNI Ardiheri.

Termasuk Pangkoopsgab Pinang Sirih III Brigadir Jenderal TNI Susilo, Asminlog Koopsgab Pinang Sirih-III Kolonel (Infanteri) Dikson, Asops Kaskostrad Brigjen TNI Bagus Suryadi Tayo, Danbrigif 20/3/1 Kostrad Letkol (Infanteri) Arynovian, Komandan Lanud Yohanis Kapiyau Timika Letkol (Penerbang) Surono, Komandan Kodim 1710/MMK Letkol (Infanteri) Yoga Cahya Prasetya, dan Wadanyonif Raider 754/ENK Kostrad.

Tak ayal, kehadiran Dudung di zona perang melawan OPM itu, layak mendapatkan perhatian. Ia menunjukkan dirinya sebagai panglima penumpas kelompok separatis dan teroris bersenjata. Namun, Dudung juga meminta agar anak buahnya memiliki formula khusus untuk merebut hati rakyat Papua agar tetap teguh mencintai NKRI.

Pada Rabu (7/7), Dudung juga mengunjungi Markas Komando Divif 3 Kostrad di Pakatto, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Ia memimpin upacara serah terima jabatan (sertijab) Panglima Divif 3 Kostrad dari Mayor Jenderal TNI Wanti Waranei Franky Mamahit kepada Brigadir Jenderal TNI Kunto Arief Wibowo. Kunto anak dari mantan wakil Presiden Try Sutrisno akan segera naik pangkat menjadi Mayjen.

Kunto sebelumnya Kepala Staf Komando Daerah Militer (Kasdam) III/Siliwangi. Sedangkan Mayjen Wanti Waranei Franky Mamahit mendapat promosi sebagai Panglima Kodam (Pangdam)/XIII Merdeka. Turut hadir di antaranya Panglima Divif 1 Kostrad Mayjen TNI Dedy Kusmayadi, Panglima Divif 2 Kostrad Mayjen TNI Andi Muhammad, Inspektur Kostrad Mayjen TNI Ilyas Alamsyah, dan pejabat Kostrad lainnya.

Trikora

Markas Divif 3 Kostrad di Sulawesi Selatan mengingatkan pada peristiwa Tri Komando Rakyat (Trikora) pada 1961-1963. Saat itu Sulawesi Selatan menjadi markas komando Kostrad untuk pembebasan Irian Barat. Saat itu, Kostrad dipimpin Mayjen TNI Soeharto yang kelak menjadi Presiden selama 32 tahun.

Jejaknya sejarah Kostrad ada pada Monumen Mandala yang berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman, Kota Makassar. Monumen Mandala atau Pembebasan Irian Barat merupakan bangunan menara berbentuk segi tiga sama sisi yang menjulang sekitar 75 meter. Layaknya Monas di Indonesia bagian timur. Segi tiga merupakan simbol dari Tri Komando Rakyat (Trikora).

Monumen Mandala dibangun sebagai pengingat Operasi Trikora, yakni serbuan Indonesia untuk menggabungkan wilayah Papua sebagai bagian Indonesia dari tangan Belanda. Pada sejumlah bagian Monumen Mandala terdapat relief yang berbentuk kobaran api menandakan semangat juang Trikora.

Dudung berpesan kepada seluruh prajurit Divif 3 Kostrad untuk harus senantiasa mengasah diri dalam olah keprajuritan. Sehingga, mereka memiliki kredibilitas kemampuan dan militansi yang tinggi dengan dilandasi tekad untuk dapat mewujudkan profesionalisme sebagai prajurit Sapta Marga. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *